Kamis, 03 Mei 2012

JEJARING SOSIAL

Teknologi bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi memungkinkan anak untuk belajar, bersosialisasi dan berkomunikasi. Namun di sisi lain, teknologi dapat pula melukai diri sendiri jika digunakan untuk negatif. Dan tidak sedikit anak yang menjadi korban pelecehan atau premanisme di internet. Istilah tersebut sering dikenal dengan nama cyber bullying, yaitu prilaku anti-sosial yang melecehkan atau merendahkan seseorang secara online atau melalui telapon seluler. 

Cyber bullying memanfaatkan pesan SMS, email, instant massaging (IM), blog, situs jejaring sosial atau halaman web untuk mengganggu dan mempermalukan atau mengintimidasi kita (korban). Bentuknya bermacam-macam, seperti menyabarkan isu-isu palsu memposting foto-foto yang memalukan, pelecehan seksual dan berbagai tindakan ancaman lainnya yang berbuntut ke pemerasan, hingga korban dari cyber bullying ini banyak yang akhirnya bunuh diri. 

Biasanya, korban tidak berani memberitahukan kita tentang hal tersebut karena alasan malu. Dengan tanda-tandanya :
  • Emosi yang berubah menjadi drastis, marah atau sedih yang berlebihan setelah menggunakan ponsel atau berinternet.
  • Menarik diri dari teman-teman atau kegiatan yang biasa dijalakan bersama-sama.
  • Prestasi yang menurun dan ketidak puasan atas tempat pendidikan atau tempat kerjanya.
  • Depresi yang tidak biasanya.
Belum lagi dengan beredarnya konten seksual di ponsel atau yang lebih dikenal dengan istilah sexting, memang bisa meracuni siapa saja tak terkecuali kita sendiri. Sampai dengan mudahnya konten esek-esek tersebut dapat mempengaruhi pikiran, dan nafsu kitapun  dapat tercemar dengan kata-kata atau gambar yang tidak senonoh itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar